Senin, 12 September 2011

KONFLIK ANTAR MASYARAKAT

Ambon kembali membara pada Ahad (11/9/2011) kemarin. Kota yang tenang itu tiba-tiba bergolak. Dua kelompok massa bentrok dan mengamuk, menyebabkan kerusakan di berbagai sudut kota. Ibukota provinsi Maluku itu memanas dan mencekam.

Massa saling melempar batu. Sepeda motor dihentikan lalu dibakar. Letusan senjata api terdengar. Toko-toko tutup. Warga pun tak berani keluar rumah, bahkan sebagian mengungsi. Sementara pasukan polisi bekerja keras mengendalikan situasi. Keterbatasan jumlah aparat membuat kondisi tak terkendali selama beberapa saat.

Setelah mendapat tambahan pasukan dari Makassar, aparat akhirnya menguasi dapat menguasai keadaan beberapa jam kemudian. Tidak ada korban tewas, walau banyak yang mengalami luka.

Kerusuhan dipicu oleh hal yang sepele, yakni kecelakaan seorang tukang ojeg. Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam menjelaskan, kematian tukang ojek bernama Darmin Saiman ditunggangi isu pembunuhan yang beredar via pesan pendek (SMS). Emosi warga pun memuncak, sehingga terjadi amuk massa.

Ketua Pemuda Maluku Indonesia Bersatu (PMIB) Ronald A Syuta menyatakan prihatin atas apa yang terjadi di kota Ambon. Pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat Maluku, baik yang berada di Maluku maupun di luar Maluku agar bisa menahan diri dan tidak mudah terprovokasi situasi yang berkembang dan memecah belah persatuan warga.

"Kami mengharapkan Gubernur, para bupati, tokoh agama, tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa menahan diri tidak mudah terprovokasi," ujar Ronald. Ia meminta agar aparat mengusut kejadian di Ambon dan mengantisipasi kejadian serupa. Pihaknya juga mendesak agar presiden tetap menjaga kondisi Maluku yang damai dan aman.

Jika ditelisik lebih jauh, kerusuhan di Ambon yang sudah terjadi beberapa kali, semua akibat hasutan informasi berantai. Isu yang tidak berdasar fakta sengaja dihembuskan untuk menyulut emosi kelompok-kelompok yang kerap bertikai. Akibatnya, emosi tak terkendali membuat kekacauan di kota Ambon. Parahnya, persoalan kemudian dibelokkan ke masalah berbau SARA.

Kerusuhan Ambon pertama dan kedua juga diawali dengan persoalan sepele yang berujung ke konflik etnis. Pada kerusuhan 15 Juli 1999 yang diawali dengan bentrok di pulau Saparua, misalnya, menurut hasil investigasi pemerintah, diakibatkan oleh dendam pribadi yang memicu amuk massa lantaran rekayasa pihak-pihak tertentu.

Awalnya pecah kerusuhan di Desa Siri Sori Islam, Desa Ullath, Siri Sori Amalatu dan Saparua pada tanggal 15 dan 16 Juli 1999. Peristiwa tersebut menyulut kerusuhan di seantero Kotamadya Ambon dan daerah-daerah pinggirannya. Akibatnya, beberapa rumah dan bangunan yang menjadi kantor pemerintah terbakar, dan puluhan korban meninggal dunia.

Lantaran gampang tersulut kerusuhan, Ambon --dan Maluku pada umumnya-- kemudian menjadi ajang adu domba oleh pihak-pihak yang menginginkan Indonesia tercerai berai. Hingga saat ini tercatat sudah 3 kali Ambon dilanda kerusuhan hebat. Dan semuanya berawal dari persoalan sepele: bentrok individu yang sudah jamak terjadi.

Yang perlu disadari, Ambon telah menjadi bagian dari pusaran konflik kepentingan nasional dan regional. Wilayah Indonesia Timur itu menjadi salah satu titik kulminasi konflik di Asia Tenggara.

Seperti diletahui, Asia Tenggara dijadikab obyek pusaran konflik dunia pasca perang dunia II. Kawasan ini menjadi “target” perebutan pengaruh bagi kubu Komunis maupun Liberalis, yang ditandai dengan pembentukan pakta militer SEATO (South East Asia Treaty Organizations) oleh Amerika Serikat dan sekutu, dan upaya perluasan Pakta Warsawa Uni Soviet di Vietnam pasca kejatuhan Vietnam Selatan.

Rebutan pengaruh itu diformulasikan dalam bentuk latent. Nah, intervensi kepentingan asing, tampaknya, mengangkat konflik latent tersebut menjadi gejala konflik sosial. Bentrok antar masyarakat banyak terjadi di lokasi yang mengalami ekskalasi konflik yang sangat tinggi.

Pola ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan konflik di tingkat negara. Artinya jika suatu negara memiliki kerawanan konflik, maka akan mengalami efek spiral ke masyarakat. Kasus yang banyak terjadi di Indonesia tercermin dalam konflik yang berdimensikan SARA (Suku, Agama. Ras, dan Antar Golongan). Konflik ini sering timbul secara sporadis ataupun masif, seperti terjadi di Ambon.

Dalam batas tertentu, konflik antar masyarakat mengalami ekskalasi pada momen-momen tertentu, seperti menjelang pemilihan umum, pemilihan eksekutif atau presiden dan menjelang/usai hari raya agama. Dalam momen poltik, konflik antar masyarakat seringkali dimanfaatkan oleh elit untuk melakukan bargaining dengan rival politiknya. Dalam saat momen keagamaan, konflik di masyarakat seringkali berkembang menjadi konflik SARA tingkat nasional.

Jadi, masyarakat perlu menyadari konstelasi politik seperti ini. Tentu semua pihak menghimbau agar semua komponen masyarakat tidak terpancing isu provokatif yang memecah belah bangsa!


http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/2613-ambon-sejarah-panjang-konflik-antar-etnis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar